>

Rabu, 09 Oktober 2013

SOAL ONLINE XII Sos 5

http://www.ziddu.com/download/23123848/SOALSEJARAHONLINEMATERIPROKLAMASI-PKISos5.docx.html

SOAL ONLINE XII Sos 7

http://www.ziddu.com/download/23123796/SOALSEJARAHONLINEMATERIPROKLAMASI-PKISos7.docx.html

SOAL ONLINE XII Sos 6

http://www.ziddu.com/download/23123767/SOALSEJARAHONLINEMATERIPROKLAMASI-PKISos6.docx.html

Rabu, 05 Juni 2013

buat EXTRHEME ( X Three)






di gerbang inilah untuk pertama kali kalian memasuki SMA Hangtuah 1 Surabaya....
dari gerbang ini pula kalian memulai untuk belajar dan berkumpul sebagai siswa X-3 dibawah nauangan SMA Hangtuah 1 Surabaya....
       setahun sudah kalian  belajar bersama sebagai keluarga EXTHREME ( X Three)....
       setahun sudah saya mendampingi kalian sebagai wali kelas EXTHREME ( X Three)....
       tak ada pertemuan jika perpisahan tak tercipta...
       tak ada kebersamaan jika kesendirian tak terjadi....
                                  mungkin banyak kata yang tak terucap....
                                  mungkin banyak umpatan yang terpendam....
                                  apapun itu, kini semua harus menjadi bagian dari kenangan kita
                                  siapapun itu, kini semua harus berpisah.....
hanya satu yang abadi....
hanya satu yang kekal...
hanya satu yang tersimpan....
EXTHREME ( X THREE).
yang telah terpatri di sanubari....
                            selamat jalan anak-anakku
                            selamat melanjutkan tingkatan pendidikanmu di kelas XI
                            semoga kebersamaan kalian ini tidak akan luntur oleh kikisan waktu yang terus berputar
                            semoga goresan EXTHREME ( X THREE) yg telah terpatri akan abadi.....



                                                                                                                       Budy Supriyanto.

Sabtu, 01 Juni 2013

Perkembangan pendidikan di tanah jawa sejak jaman kerajaam hindu hingga jaman reformasi

Pendidikan adalah unsur penting dalam kehidupan manusia, dengan pendidikan manusia akan mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik dari waktu ke waktu. pendidikan khususnya untuk pulau jawa telah mengalami perkembangan dari masa ke masa, dimulai sejak jaman kerajaan  hingga sekarang. karena itulah sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui perkembangan pendidikan di pulau jawa. pendidikan di pulau jawann tebagi sebagai berikut ini:

1. Pendidikan masa kerajaan hindu - buddha
Pendidikan masa kerajaan dimulai pada masa kerajaan tarumanegara, sekitar abad ke 5 M. pada masa itu sudah ada lembaga - lembaga pendidikan yang beracuan pada pengetahuan dan pemahaman ajaran agama, pada masa kerajaan hindu tersebut kaum brama sebagai kasta tertinggi merupakan satu - satunya sumber pendidikan dan pengajaran. seluruh pembelajaran dilakukan oleh kaum bramana ini, sistem pendidikan yang digunakan disebut dengan Sistem pendidikan Hindu Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala. patapan adalah tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan, sedangkan mandala adalah tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. 
ciri - ciri pendidikan pada masa ini adalah pengelola pendidikan ialah kaum Brahmana mulai dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi, bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain, kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu, pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun temurun melalui jalur kastanya masing-masing. 

2. Pendidikan masa islam
Pendidikan pada masa perkembangan islam pada masa awalnya bersifat informal, yakni melalui interaksi inter-personal yang berlangsung dalam berbagai kesempatan seperti aktivitas perdagangan, karena lalu lintas perdagangan laut internasional yang melewati wilayah nusantara sudah ramai.sedangkan metode pendidikan yang digunakan berbeda dengan metode pendidikan pada masa kerajaan hindu - buddha, pada masa kerajaan hindu - buddha pendidikan dicirikan dengan metode pendidikan cetralistik. hanya bersumber pada kaum brama saja.
Metode pembelajarannya adalah seorang [murid secara perorangan atau bergantian belajar kepada guru] dan halaqah atau wetonan [guru mengajar sekelompok murid yang duduk mengitarinya secara kolektif atau bersama-sama]. Mereka yang berkeinginan melanjutkan pendidikannya setelah memperoleh bekal cukup dari langgar/ masjid di kampungnya, dapat masuk ke pondok pesantren. Secara tradisional, sebuah pesantren identik dengan kyai [guru/ pengasuh], santri [murid], masjid, pemondokan [asrama], dan kitab kuning [referensi atau diktat ajar]. Sistem pembelajaran relatif serupa dengan sistem di langgar atau masjid, hanya saja materinya kini kian berbobot dan beragam, seperti bahasa, dan sastra arab, tafsir, hadits, fiqih, ilmu kalam, tasawuf, tarikh, dan lainnya. sistem pendidikan pada masa ini tidak terlepas dari peranan walisongo pada masa itu.

lembaga - lembaga pendidikan yang muncul adalah langgar  atau masjid, pondok pesantren dan madrasah.

3. Pendidikan masa kolonial (penjajahan) 
Pendidikan masa kolonial terbagi menjadi dua macam, yaitu pendidikan masa voc dan pendidikan masa pemerintahan hindia belanda. keduanya memiliki ciri - ciri yang berbeda. Pendidikan masa voc selalu berhubungan dengan kepentingan perdagangan, hal ini dapat kita lihat dari lembaga pendidikan (kongsi pendidikan) yang muncul selalu ada sangkut pautnya dengan kepentingan perdagangan itu sendiri. tujuan utama pendidikan pada masa ini adalah untuk memenuhi kebutuhan para pegawai VOC dan keluarganya di samping untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah terlatih dari kalangan penduduk pribumi. secara umum lembaga pendidikan pada masa voc ini terdiri dari 6 macam, yaitu sekolah dasar, sekolah latin, sekolah seminari, akademi pelayanan, sekolah cina, dan sekolah pendidikan islam. pendidikan masa pemerintahan hindia belanda sedikit banyak masih bertujuan untuk menciptakan tenaga ahli bagi pemerintahan hindia belanda sendiri. lembaga - lembaga pendidikan yang ada pada masa voc dinilai masih kurang dalam menciptakan tenaga ahli. untuk itu diciptakan aturan tentang penyelenggaraan pendidikan bagi bumiputra (sebutan bagi kaum pribumi indonesia). lembaga pendidikan dimulai sejak kelas 1 lama pendidikan selama 5 tahun, kelas 2 lama pendidikan selama 3 tahun, sekolah rendah yang terbagi menjadi 2 yaitu sekolah rendah berpengantar bahasa belanda khusus untuk anak - anak keturuna eropa, cina dan bangsawan pribumi, selanjutnya sekolah rendah berpengantar bahasa daerah khusus untuk kaum pribumi. sekolah pada tingkat ini terbagi menjadi 4 yaitu
1. Sekolah Bumi Putra kelas II (Tweede klasee) lamanya belajar 7 tahun

2.  Sekolah Desa (Volksschool) lamanya belajar 3 tahun
3. Sekolah Lanjutan (Vorvolgschool) lamanya belajar 2 tahun
4. Sekolah Peralihan (Schakelschool) lamanya belajar 5 tahun
selain sekolah diatas juga ada sekolah menengah dan sekolah kejuruan.
secara umum pendidikan pada masa kolonial dibedahkan berdasarkan tingkat strata sosial yang dimiliki pada masyarakat, ada golongan masyarakat eropa, golongan bumi putra dan golongan pribumi

4. Pendidikan masa pasca proklamasi (orla)
Pendidikan pada masa ini telah dibagi menjadi 4 tingkatan, yaitu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. pendidikan bersifat lebih umum dan terbuka dibandingkan masa penjajahan, dan juga lebih di titik beratkan pada penanaman jiwa nasionalisme bangsa. peralihan dari masa penjajahan ke masa pasca proklamasi mengakibatkan munculnya permasalahan besar di bidang pendidikan, seperti gedung dan sarana pendidikan yang kurang bagus, dan tenaga pengajar yang masih sedikit. 

5. Pendidikan masa orde baru (orba)
Pendidikan yang muncul pada masa ini terbagi menjadi dua yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum, jenjang pendidikannya terdiri dari pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan luar biasa,  dan pendidikan luar sekolah (kursus)
sedangkan jenjang pendidikannya sebagai berikut :
Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik dan pendidikan professional.

6. Pendidikan masa reformasi 

Pendidikan pada zaman reformasi mengalami suatu perkembangan yang pada dasarnya lebih maju daripada pendidikan pada zaman orde baru. Pendidikan pada zaman reformasi mengutamakan pada perkembangan peserta didik yang lebih terfokus pada pengelolaan masing – masing daerah (otonomi pendidikan). Dalam hal tenaga kependidikan diberlakukan suatu kualifikasi profesional untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Sedangkan sarana dan prasarana juga sudah mengalami suatu peningkatan yang baik. Namun daripada hal tersebut pendidikan yang ada di Indonesia masih belum mengalami suatu pemerataan. Ini terlihat dari adanya beberapa sekolah –sekolah terutama di daerah pedalaman masih terdapat keterbatasan dalam berbagai aspek penyelenggaraannya. Dinamika sosial politik Indonesia yang juga berdampak pada perubahan kurikulum merupakan suatu bentuk penyempurnaan dalam bidang pendidikan untuk meningkatan mutu pendidikan di Indonesia. pada masa ini muncul kewajiban bagi masyarakat untuk menyelesaikan pendidikan minimal selama 12 tahun. atau lebih dikenal dengan wajib belajar 12 tahun (dimulai dari sd = 6 tahun, smp = 3 tahun, sma = 3 tahun). perubahan demi perubahan mengenai kurikulum dan sistem pendidikan juga terus terjadi pada masa reformasi ini.

Rabu, 29 Mei 2013

sejarah lahirnya lambang negara burung garuda



Sejarah lahirnya lambang negara burung garuda

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.
Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.
Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.
Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data. Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.
Sumber : http://sejarahbangsaindonesia.wordpress.com

daftar isi